Angsa
merupakan burung air yang memiliki leher panjang dan bisa terbang. Pada
foto-foto tersebut merupakan hasil dokumentasi dari aktivitas angsa putih yang kerap kali
dirutini setiap hari. Begitulah kurang lebih dokumentasi aktivitas
yang dilakukan oleh angsa-angsa putih yang dipelihara di kawasan danau kampus 3 UMM.
Just ordinary girl with a thousand dreams. And especially i wanna be a great biologist.
Tampilkan postingan dengan label Ekologi Hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekologi Hewan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 10 Mei 2013
Minggu, 21 April 2013
Konsep waktu-suhu yang berlaku pada hewan poikilotermik sangat berguna aplikasinya dalam pengendalian hama pertanian, khususnya dari golongan serangga. Jelaskan arti konsep waktu secara singkat, dan berikan contoh ulasannya terkait dengan kasus ulat bulu yang menyerbu tanaman mangga di Probolinggo Tahun 2010.
Kasus peledakan ulat bulu di Probolinggo dipengaruhi oleh faktor biotik dan
faktor abiotik ang dapat memicu peningkatan ulat bulu di Probolinggo. Suhu yang
berfluktuasi, dan suhu lingkungan yang melebihi batas toleransi suhu minimum
lingkungannya untuk pertumbuhannya, sehingga tumbuhnya populasi ulat bulu
dengan waktu yang cepat yang menyebabkan populasi pertumbuhan yang meningkat terus-menerus. Musim hujan yang panjang, debu vulkanik,
penanaman mangga menuju satu varietas (manalagi), program hutan produksi, dan
penggunaan input kimia diperkirakan menjadi penyebab utama terjadinya ledakan
populasi ulat bulu di Probolinggo.
Adanya keterkaitan antara suhu lingkungan dengan waktu tumbuh dan
berkembangnya hewan ektothermal disebut sebagai konsep waktu suhu atau waktu
fisiologis. Hewan ektothermal disebut juga hewan poikiloterm. Untuk
pertumbuhannya, hewan ektothermal memerlukan kombinasi antara faktor waktu dan
faktor suhu lingkungan. Hewan ektothermal tidak dapat tumbuh dan berkembang
bila suhu lingkungannya dibawah batas suhu minimum kendatipun diberikan waktu
yang cukup lama. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, hewan ektothermal
memerlukan suhu lingkungan di atas batas suhu minimumnya maka semakin singkat
waktu yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang. Begitu pula sebaliknya.
Ledakan ulat bulu di Probolinggo telah dikaji melalui pengujian
di laboratorium dan observasi di lapangan. Musim
hujan yang panjang, debu vulkanik, penanaman
mangga yang menuju satu jenis, yakni manalagi, program hutan produksi, dan
penggunaan input agrokimia
ditengarai menjadi penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati pada
agroekosistem tanaman mangga sehingga menimbulkan ledakan populasi A.
submarginata. Kekacauan populasi pascamigrasi A.submarginata dari
pertanaman teh dan kemampuan adaptasinya yang tinggi pada tanaman mangga
menyebabkan terjadinya peningkatan populasi ulat bulu pada tanaman mangga. Faktor pemicu utama ledakan populasi ulat bulu adalah perubahan ekosistem
yang ekstrem pada agroekosistem mangga. Perubahan tersebut dipicu oleh beberapa
hal, yakni musim hujan yang panjang pada tahun 2010−2011 yang menyebabkan
kenaikan kelembapan udara. Suhu yang berfluktuasi berdampak terhadap iklim
mikro yang mendukung perkembangan ulat bulu. Abu vulkanik akibat letusan Gunung
Bromo, penanaman hanya satu varietas mangga, peralihan fungsi hutan menjadi
hutan produksi, dan penggunaan input kimia seperti pestisida dan pupuk ikut
menjadi pemicu ledakan populasi ulat bulu. Tanaman mangga sebetulnya membutuhkan kehadiran serangga herbivora untuk
meningkatkan suhu mikro untuk pertumbuhan tunas baru dan merangsang pembungaan.
Daun-daun tanaman mangga yang dimakan serangga akan meningkatkan suhu mikro.
Sumber:
Jelaskan aplikasi konsep interaksi populasi, khususnya parasitisme dan parasitoidisme, dalam pengendalian biologis. Berikan contohnya!
Parasit serangga berkembang di
dalam atau di luar individu serangga inang atau pada telur suatu inang. Istilah
parasitoid sering digunakan untuk parasit pada serangga dikarenakan cukup
berbeda dari parasit yang sebenarnya untuk memberikan kekhususan. Berikut
adalah ciri khusus parasitoid, antara lain selama perkembangan suatu individu
parasitoid merusak individu inang, inang biasanya pada tingkat taksonomi class
yang sama, parasitoid pada umumnya ukurannya hampir sama dengan inangnya,
bersifat parasit pada saat larva saja; dewasanya hidup bebas, tidak
memperlihatkan heterocism (hidup dalam satu spesies inang dan spesies lainnya),
dan aksinya menyerupai predator yang lebih dari parasit sesungguhnya dalam dinamika
populasi hama. Pengendalian alami adalah pengendalian
populasi makhluk hidup di alam karena tekanan faktor lingkungan biotik dan
abiotik. Di dalam pengendalian alami tidak ada peran
aktif manusia. Musuh alami di dalam pengendalian hayati terdiri atas pemangsa,
parasitoid, dan patogen. Pemangsa adalah serangga atau hewan pemakan serangga
yang selama masa hidupnya banyak memakan mangsa. Parasitoid adalah serangga
yang meletakkan telurnya pada permukaan atau di dalam tubuh serangga lain yang
menjadi inang atau mangsanya. Ketika telur parasitoid menetas, larva parasitoid
akan memakan inang dan membunuhnya.
Aplikasi konsep interaksi populasi khususnya parasitisme dan parasitoidisme
dalam pengendalian biologis dapat memberikan dampak positif dan dampak negatif.
Dampak positifnya adalah parasitoid yang sedang mengalami pertumbuhan
membutuhkan populasi lain yang akan menjadi inangnya. Sedangkan dampak
negatifnya adalah ketika telur parasitoid menetas, larva parasitoid akan
memakan inangnya sendiri dan
membunuhnya. Sama halnya dengan parasit yang berkembang di dalam atau di
luar individu inangnya atau pada telur suatu inang untuk proses tumbuh
kembangnya. Pola interaksi yang terjadi secara
alamiah karena ada hubungan dalam rantai makan, dan keterlibatan populasi yang
satu terhadap yang lain merupakan hubungan langsung dan menghambat pertumbuhan
populasi lainnya.
Sumber:
Nilai sikap dan karakter apa yang harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep-konsep dalam ekologi hewan? Berikan contoh riilnya!
Nilai sikap dan karakter yang
harus ditumbuhkan pada siswa ketika belajar konsep ekologi hewan adalah
menumbuhkan rasa suka terhadap berbagai jenis hewan, rasa kasih sayang terhadap
hewan, memotivasi siswa untuk memiliki rasa ingin tau terhadap berbagai jenis
hewan-hewan langka yang terdapat di Indonesia, serta mengajak siswa untuk
menjaga, melindungi, dan melestarikan hewan-hewan terutama hewan yang sudah terancam
kepunahannya. Dengan menumbuhkan nilai sikap dan karakter kepada siswa untuk
belajar konsep ekologi hewan diharapkan siswa dapat mengaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari dan mempelajari lingkungan, perilaku hewan, dan berbagai
konsep ekologi hewan.
Contohnya adalah kita menumbuhkan rasa suka,
kasih sayang kepada siswa terhadap hewan badak. Menjelaskan habitat, makanan,
apapun yang berkaitan dengan badak. Selanjutnya kita mengajak siswa untuk
menjaga, melindungi, dan melestarikan hewan badak.
Uraikan satu contoh pemanfaatan indikator hewan untuk monitoring kondisi lingkungan secara mendetail, mulai dari jenis, prinsip dan praktik pemanfaatannya!
Jenis hewan yang dapat
digunakan untuk monitoring kondisi lingkungan adalah lintah (Hirudo
medicinalis).
Lintah (Hirudo medicinalis) dapat digunakan
sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan tawar. Lintah merupakan
organisme yang masih dapat ditemukan pada lingkungan yang tercemar, sehingga
termasuk ke dalam organisme toleran. lintah (Hirudo medicinalis) mempunyai habitat yang relatif tetap. Dengan
sifatnya yang demikian, perubahan-perubahan kualitas air dan substrat tempat
hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Hal ini baik
digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena lintah selalu mengadakan
kontak langsung dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih
mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu
karena lintah (Hirudo medicinalis) terus menerus terdedah oleh air yang
kualitasnya berubah-ubah.
Prinsip:
Beberapa
kriteria umum yang dapat digunakan untuk menggunakan suatu jenis organisme
sebagai bioindikator adalah
1)
Secara taksonomi telah stabil dan cukup diketahui.
2)
Sejarah alamiahnya diketahui
3)
Siap dan mudah disurvei dan dimanipulasi
4)
Taksa yang lebih tinggi terdistribusi secara luas pada berbagai tipe habitat
5)
Taksa yang lebih rendah spesialis dan sensitif terhadap perubahan habitat.
6)
Pola keanekaragaman mengambarkan atau terkait dengan taksa lainnya yang
berkerabat atau tidak.
7)
Memiliki potensi ekonomi yang penting.
Makroinvertebrata
khususnya lintah lebih banyak dipakai dalam pemantauan kualitas air karena
memenuhi beberapa kriteria, antara lain:
1) Sifat hidupnya yang relatif menetap/tidak
berpindah-pindah, meskipun kualitas air tidak mengalami perubahan.
2) Dapat dijumpai pada beberapa zona habitat
akuatik, dengan berbagai kondisi kualitas air.
3) Masa hidupnya cukup lama, sehingga keberadaannya
memungkinkan untuk merekam kualitas lingkungan di sekitarnya
4) Terdiri atas beberapa jenis yang memberi respon
berbeda terhadap kualitas air.
5) Relatif lebih mudah untuk dikenali dibandingkan
dengan jenis mikroorganisme.
6) Mudah dalam pengumpulan/pengambilannya, karena
hanya dibuthkan alat yang sederhana yang dapat dibuat sendiri.
Praktik pemanfaataannya:
Dalam
monitoring kondisi lingkungan digunakan indikator hewan jenis lintah dengan
salah satu metode adalah Biological Monitoring Working Party-Average Score
Per Taxon (BMWP-ASPT) yang dikembangkan di Inggris. Sistem tersebut
mengelompokkan atau membagi biota bentuk menjadi 10 tingkatan berdasarkan
kemampuannya dalam merespon cemaran di habitatnya. Pengelompokkan biota
didasarkan atas kelimpahan jenis tertinggi yang dijumpai padat ingkat kualitas
air tertentu. Atas dasar tersebut kualitas air sungai dapat dibagi menjadi 6
kelas tingkat cemaran. Enam kelas tingkatan adalah tidak tercemar, tercemar
ringan, tercemar sedang, tercemar, tercemar agak berat, dan sangat tercemar. Nilai
indeks biotik dapat diperoleh dengan cara merata-ratakan seluruh jumlah nilai
skoring dari masing-masing kelompok biota yang diperoleh di perairan air tawar.
Nilai indeks akan berkisar antara 0-10 dan sangat bervariasi bergantung pada
musim. Semakin tinggi nilai yang diperoleh akan semakin rendah tingkat cemaran
yang ada. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode BMWP-ASPT, bahwa lintah (Hirudo
medicinalis) sebagai makrozoobentos indikator (bioindikator) pada
lingkungan perairan air tawar yang sudah tercemar.
Sumber:
Lestari. 2010. Bioassessment Kualitas
Air Sungai Rejoso Di Kecamatan Rejoso Pasuruan Dengan Makroinvertebrata. Jurnal
Penelitian. Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-ITS. Surabaya
Apakah manfaat pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi? Berikan salah satu contoh hewan langka, lakukan kajian tentang relungnya.
Relung ekologi suatu individu atau populasi hewan
adalah status fungsional hewan itu dalam habitat yang ditempatinya sehubungan
dengan adaptasi – adaptasi fisiologisnya, struktural dan pola perilakunya
(Sukarsono, 2012). Relung (niche) menunjukkan
peranan fungsional dan posisi suatu organisme dalam ekosistem. Relung yaitu
posisi atau status organisme dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu.
Relung suatu organisme ditentukan oleh tempat hidupnya (habitat) dan oleh
berbagai fungsi yang dikerjakannya, sehingga dikatakan sebagai profesi
organisme dalam habitatnya. Profesi organisme menunjukkan fungsi organisme
dalam habitatnya. Berbagai organisme dapat hidup bersama dalam satu habitat.
Akan tetapi, jika dua atau lebih organisme mempunyai relung yang sama dalam
satu habitat, maka akan terjadi persaingan. Makin besar kesamaan relung dari
organisme-organisme yang hidup bersama dalam satu habitat, maka makin intensif
persaingannya. Konservasi merupakan usaha menjaga, melindungi dan melestarikan
hewan langka yang hampir punah maupun sudah punah. Sebelum kita melakukan
observasi kita harus mengetahui faktor abiotik dan faktor biotik dahulu. Serta
kita harus mempelajari segala hal yang berhubungan dengan hewan yang akan kita
lindungi tersebut terutama kita harus mengetahui dan mempelajari tentang relung
hewan yang akan kita konservasi agar kita dapat melestarikannya dengan baik. Manfaat
pengetahuan tentang relung bagi aktivitas konservasi adalah mempermudah
konservasi hewan langka, sebab kita sudah mengetahui tentang relung hewan
langka tersebut. Relung ekologi yang merupakan suatu pola atau perilaku hewan
terhadap lingkungannya. Di dalam sebuah konservasi hewan langka terdapat
beberapa spesies yang hidup bersamaan. Relung digunakan spesies untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya berupa makanan, dan pertumbuhan perkembangan.
Salah satu contoh hewan langka
yang sekarang dilindungi pemerintah yang menjadi konservasi saat ini adalah
bekantan atau monyet hidung panjang. Supaya mempermudah dalam pelestarian kita
harus mengetahui relung serta habitatnya yaitu antara lain di
pohon sekitar tepi sungai, di
sepanjang tepi sungai hutan mangrove, tepian sungai, dan hutan rawa gambut.
Hidup berkelompok di sekitar sumber makanannya, yang berupa dedaunan dan
buah-buahan. Bekantan dapat ditemukan di sepanjang sungai di bagian barat
dataran rendah. Bekantan (monyet hidung panjang) ini kondisinya terancam
punah.
Karena apabila habitat suatu
konservasi hewan langka terganggu maka hewan langka akan semakin punah.
Habitat bekantan di hutan
mangrove riverine memiliki ciri-ciri keragaman jenis pohon yang rendah
namun kerapatannya tinggi, dan terdapat jenis pohon yang sangat dominan, yaitu R.
apiculata yang menjadi sumber pakan pokok (71,9%) dalam komposisi pakan
bekantan. Di hutan mangrove, aktivitas bekantan di
tepi sungai dapat berlangsung dari
subuh pagi hari hingga pukul 07.45, seperti makan daun Avicennia officinalis atau
Rhizophora apiculata di sekitar pohon tidurnya. Bila bergerak lebih awal,
bekantan dapat mencapai radius 400 m dari tepi sungai. Pada umumnya
pukul 07.00, bekantan sudah ada pada posisi 100 m dari tepi sungai.
Selama aktivitas harian berlang sung, kelompok bekantan dapat terbagi menjadi
2-3 sub kelompok. Pola pergerakan, bentuk, dan luas ruang pengembaraan
primata pada umumnya berhubungan erat dengan penyebaran dan jumlah sumber
pakan Bekantan
tidur di atas pohon A. officinalis dan Rizophora apiculata yang posisinya terletak
antara 0-50 m dari tepi sungai. Pohon yang dipilih sebagai tempat tidur,
selain dekat tepi sungai, juga mempunyai tajuk yang lebar dengan sejumlah
percabangan yang mendatar. Kondisi ini diperlukan agar posisi tubuh
sewaktu istirahat atau tidur ada dalam keseimbangan. Pohon yang lebih dekat
ke tepi sungai yang digunakan untuk bermalam umumnya tidak terlalu
tinggi, yaitu 10-15 m. Bekantan memakan dan menyukai
sumber pakan yang justru memiliki kadar tanin tinggi.
Sumber:
Atmoko, dkk. 2008. Kondisi habitat
dan penyebaran bekantan (Nasalis larvatus
wurmb). Jurnal Penelitian. Balikpapan
Bismark, M.
2002. Biologi Konservasi Bekantan (Nasalis
larvatus). Departemen Kehutanan. Bogor
Sukarsono.2012.Ekologi Hewan. UMM press : Malang
Senin, 18 Maret 2013
Angsa sebagai Hewan Pekerja
Definisi hewan pekerja adalah
hewan yang dimanfaatkan oleh manusia karena kemampuan alamiahnya atau akibat
oleh pelatihan. Pengertian ini membatasi hewan yang rajin bekerja tapi untuk
dirinya sendiri. Karena kelebihnnya ini hewan tersebut kemudian menjadi sahabat
bahkan anggota keluarga dari manusia yang mengambil manfaat dari keberadaannya.
Hewan ini adalah keluarga burung.
Dalam keluarga besarnya angsa adalah berukuran besar dan hidup di darat, bukan
di pohon. Selain ukurannya yang besar, angsa memiliki leher yang panjang seakan
menegaskan bahwa dia lebih besar lagi.
Sebagai hewan pekerja, angsa
dipilih bukan karena ukuran tubuh dan atau lehernya. Angsa dipekerjakan karena
suara gaduhnya dan belum dikenal jam tidur serta anti sogokan. Bila hewan
penjaga seperti anjing dikenal karena gonggongannya, juga nyaris dalam tidurpun
jika menangkap sedikit saja suara asing, segera siaga dengan gonggongannya;
demikian juga angsa.
Pengguna jasa angsa sebagai hewan
penjaga dengan memberikan peringatan dini (early-warning) adalah pihak
pengelola Istana Buckingham, Inggeris. Selain cukup cantik dan padu padan
dengasn tanam yang dirancang dengan kolam dan air, hewan ini belum begitu
terkenal sebagai penjaga sehingga kehadirannya terkamuplase. Meski demikian
kehadiran angsa tetap digabungkan dengan anjing. Jadi semacam pengamanan
berlapis.
Bila dalam banyak film, anjing
digambarkan begitu perkasa namun seringkali menjadi sibuk dan "diam"
bila diberi makanan. Hal ini berlaku sebaliknya, pemberian makan pada angsa
akan membuat keributan menjadi kegaduhan. Angsa bukanlah itik yang ramah. Meski bila dibanding anjing tentu unggas ini tidak bertaring. Namun sodokan paruh angsa sangat keras
dan memimbulkan luka di kulit terluar. Tamu tak diundang belum pernah tercatat
mengalami cedera karena penjaga yang satu ini. Namun sikap memandang enteng,
meremehkan yang membuat kaget.
Sejatinya anjingpun tidak diam
ketika disogok makanan, hanya suaranya jauh lebih rendah dibandingkan setika
mulutnya terbuka.
Nama local di Kalimantan untuk angsa adalah itik angsa.
Minggu, 17 Maret 2013
Manfaat dari Hewan Angsa
Angsa adalah salah satu ternak yang paling awal
dimanfaatkan oleh manusia.Di berbagai negara dan wilayah, pemanfaatan angsa
beraneka ragam. Di Cina, angsa digunakan oleh orang tua sebagai hadiah bagi
anaknya yang baru menikah. Mereka menganggap bahwa angsa adalah perlambang
kesuburan dan kesetiaan. Di balik itu, ternyata memang angsa liar adalah hewan
yang bersifat monogami. Hewan monogami adalah hewan yang kawin hanya pada satu
pasangan.Tetapi karena proses penjinakan (domestikasi) yang dilakukan oleh
manusia, angsa tidak lagi bersifat monogami. Angsa sekarang dapat
membuahi 4 sampai 5 ekor betina.
Sering dengan perjalanan waktu, angsa tidak hanya dimanfaatkan
sebagai hadiah pernikahan. Penggunaan semakin meluas, orang-orang yang
tinggal di belahan bumi utara (di daerah bersalju) pada awal peradaban mereka,
bulu-bulu anghsa digunakan sebagai alas tempat tidur sehingga mereka dapat
merasakan kehangatan. Selain sebagai pengisi bantal atau kasur, bulu angsa juga
digunakan sebagai alat untu menulis pada saat itu. Menggantikan pulpen
tentunya. Lemak yang berasal dari angsa pun digunakan untuk menggosok sepatu mereka.
Angsa adalah jenis unggas yang unik. Bila unggas lain dapat memakan
biji-bijian, lain halnya dengan angsa. Angsa tidak memakan biji-bijian hanya
memakan hijauan. Daya adaptasi angsa juga tinggi, dikondisi yang tidak
memungkinkan angsa dapat merawat dirinya sendiri. Meski angsa suka sekali
berenang dalam kolam, danau, atau rawa-rawa, tetapi untuk bertahan hidup angsa
dapat memanfaatkan reruputan dan gulma yang hidup dimana saja. Kemampuan angsa
untuk membersihkan rerumputan yang merupakan gulma bagi tanaman pokok
sehingga angsa dijuluki sebagai weeder geese.
Selain dimanfaatkan sebagai agen
biologis yang dapat membersihkan gulma, angsa juga digunakan sebagai
penjaga. Dapat menggantikan peran anjing. Hal ini dikarenakan, angsa mempunyai
kebiasaab untuk berteriak kalau ada hewan atau orang asing mendekati
wilayahnya. Pemanfaatan angsa seperti ini, banyak dilakukan oleh penduduk
Amerika untuk merawat kebun-kebun straberi mereka dari gulma dan menjaganya
agar tidak terjadi pencurian.
Binatang dan Pertanda
Sudah
lama di daerah Malang ada hubungan antara binatang dan pertanda. Binatang dapat
menandakan kesejahteraan, kekayaan, keuntungan dan sebagainya. Kadang-kadang
pertanda tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang.
Beberapa
contoh sebagai berikut:
·
Angsa
sering dipelihara oleh orang karena dianggap kepekaan angsa dapat merasakan
pengaruh hantu dan pencuri yang ada di sekitarnya. Kalau angsa tersebut
berbunyi tiada henti, maka orang mengetahui hantu atau pencuri mendekatinya.
Oleh karena itu angsa menerima perlakuan yang baik karena angsa berharga dan
berfungsi sebagai alat peringatan.
KANDUNGAN GIZI DARI DAGING ANGSA
Daging angsa adalah
bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Daging angsa
mengandung energi sebesar 354 kilokalori, protein 16,4 gram, karbohidrat 0
gram, lemak 31,5 gram, kalsium 15 miligram, fosfor 188 miligram, dan zat besi 2
miligram. Selain itu di dalam daging dngsa juga terkandung vitamin A
sebanyak 900 IU, vitamin B1 0,1 miligram dan vitamin C 0 miligram. Hasil
tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram daging angsa,
dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 60 %.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Daging Angsa :
Nama Bahan Makanan : Daging Angsa
Nama Lain / Alternatif : Angsa/ Daging Soang
Banyaknya Daging Angsa yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Daging Angsa yang dapat dikonsumsi (Bdd/ Food Edible) = 60 %
Jumlah Kandungan Energi Daging Angsa = 354 kkal
Jumlah Kandungan Protein Daging Angsa = 16,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Daging Angsa = 31,5 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Daging Angsa = 0 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Daging Angsa = 15 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Daging Angsa = 188 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Daging Angsa = 2 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Daging Angsa = 900 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Daging Angsa = 0,1 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Daging Angsa = 0 mg
Khasiat / Manfaat Daging Angsa : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : D
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya.
Keterangan :
Riset/penelitian pada daging angsa yang berbeda bisa menghasilkan perbedaan hasil yang didapat karena berbagai faktor yang mempengaruhi. Mohon maaf apabila ada kesalahan atau kekurangan pada informasi daftar komposisi bahan makanan daging angsa ini. Semoga informasi kandungan gizi/nutrisi Daging Angsa ini bisa bermanfaat untuk kita semua.
Informasi Rinci Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada Daging Angsa :
Nama Bahan Makanan : Daging Angsa
Nama Lain / Alternatif : Angsa/ Daging Soang
Banyaknya Daging Angsa yang diteliti (Food Weight) = 100 gr
Bagian Daging Angsa yang dapat dikonsumsi (Bdd/ Food Edible) = 60 %
Jumlah Kandungan Energi Daging Angsa = 354 kkal
Jumlah Kandungan Protein Daging Angsa = 16,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Daging Angsa = 31,5 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Daging Angsa = 0 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Daging Angsa = 15 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Daging Angsa = 188 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Daging Angsa = 2 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Daging Angsa = 900 IU
Jumlah Kandungan Vitamin B1 Daging Angsa = 0,1 mg
Jumlah Kandungan Vitamin C Daging Angsa = 0 mg
Khasiat / Manfaat Daging Angsa : - (Belum Tersedia)
Huruf Awal Nama Bahan Makanan : D
Sumber Informasi Gizi : Berbagai publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta sumber lainnya.
Keterangan :
Riset/penelitian pada daging angsa yang berbeda bisa menghasilkan perbedaan hasil yang didapat karena berbagai faktor yang mempengaruhi. Mohon maaf apabila ada kesalahan atau kekurangan pada informasi daftar komposisi bahan makanan daging angsa ini. Semoga informasi kandungan gizi/nutrisi Daging Angsa ini bisa bermanfaat untuk kita semua.
Klasifikasi Angsa Putih
Angsa putih (Cygnus olor) adalah bagian Eurasia dari
keluarga bebek, angsa dan itik Anatidae. Baik cygnus dan olor berarti
"angsa", dalam bahasa Yunani Kuno dan bahasa Latin). Angsa putih
adalah salah satu spesies yang dilindungi oleh Agreement on the Conservation of
African-Eurasian Migratory Waterbirds (AEWA) dan Konvensi Ramsar tahun 1972.
Akan tetapi angka populasinya berkurang dikarenakan polusi, pencemaran timbal,
pembangunan menara, kabel-kabel, dan hilangnya habitat karena pembangunan.
Klasifikasi ilmiah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Anseriformes
Famili : Anatidae
Genus : Cygnus
Spesies : Cygnus olor
Angsa putih berenang dengan anggun dengan lehernya yang elok dan ramping serta badannya yang besar. Setiap orang mengagumi penampilannya yang menawan. Mereka begitu indah seperti hiasan dalam sebuah karya seni.
Klasifikasi ilmiah:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Anseriformes
Famili : Anatidae
Genus : Cygnus
Spesies : Cygnus olor
Angsa putih berenang dengan anggun dengan lehernya yang elok dan ramping serta badannya yang besar. Setiap orang mengagumi penampilannya yang menawan. Mereka begitu indah seperti hiasan dalam sebuah karya seni.
Angsa dapat bergerak sangat cepat baik di air maupun di udara. Angsa merasa
lebih nyaman di dalam air dan dapat berenang dengan cepat berkat kakinya yang
berselaput.
Angsa akan berpindah tempat jika musim dingin tiba, dan mereka terbang di atas ketinggian, berjajar-jajar. Dalam perjalanannya, untuk menembus angin kuat yang menerpa, mereka membuat bentuk “V.” Dengan cara cerdik ini mereka dapat terbang lebih cepat dan tidak terlalu merasa lelah.
Makanan angsa adalah tumbuhan yang ditemuinya di dasar rawa-rawa, sungai dan kolam. Lehernya yang panjang membantunya meraih makanan. Seperti bebek, mereka dapat masuk ke dalam air dan tidak mengalami kesulitan untuk penyelaman pendek. Ada kegunaan lain dari dicabutinya tumbuhan itu oleh angsa. Beberapa tanaman tumbuh dan berkembang karena tanah menjadi gembur. Ketika angsa mengaduk-aduk dasar air untuk mencari makanan, mereka membuat tanaman tumbuh subur.
Angsa akan berpindah tempat jika musim dingin tiba, dan mereka terbang di atas ketinggian, berjajar-jajar. Dalam perjalanannya, untuk menembus angin kuat yang menerpa, mereka membuat bentuk “V.” Dengan cara cerdik ini mereka dapat terbang lebih cepat dan tidak terlalu merasa lelah.
Makanan angsa adalah tumbuhan yang ditemuinya di dasar rawa-rawa, sungai dan kolam. Lehernya yang panjang membantunya meraih makanan. Seperti bebek, mereka dapat masuk ke dalam air dan tidak mengalami kesulitan untuk penyelaman pendek. Ada kegunaan lain dari dicabutinya tumbuhan itu oleh angsa. Beberapa tanaman tumbuh dan berkembang karena tanah menjadi gembur. Ketika angsa mengaduk-aduk dasar air untuk mencari makanan, mereka membuat tanaman tumbuh subur.
Langganan:
Postingan (Atom)
